Senin, 07 Maret 2011

Keadilan Sosial Jadi Pertanyaan Buat Negeri Ini??




Ditengah gaung upaya penegakan hukum di tanah air, ternyata kita masih harus bermiris-miris ria melihat kenyataan peradilan yang telah digelar dibeberapa wilayah. Dan itu sudah mecoreng sekaligus melukai rasa keadilan bangsa ini..

Lihat saja kasus yang menimpa pencuri 3 biji kakao, biji kapuk, semangka dan yang terakhir kasus Prita yang mengharuskannya bak pengemis karena harus memenuhi tuntutan jaksa..

Ternyata, peradilan kita belum bisa mencerminkan rasa keadilan. Padahal mereka orang pinter, akan tetapi tidak memiliki kebijaksanaan. Dan ini berbanding terbalik bila melihat nasib para pengemplang dana bailout Century, atau upaya penegakan hukum yang mereka lakukan terhadap dugaan penyuapan si tengil Anggodo CS.. Padahal menurut orang bijak, bila ada orang miskin dan bodoh melakukan kesalahan, maka fungsi pemimpinnya yang harus dipertanyakan..

..hmh.. Mungkin begini model penegakan hukum di negeri ini.. Dan mungkin benar juga bila beberapa orang ada yang berpendapat bahwa keadilan di negeri ini hanya untuk orang-orang yang berduit..

Senin, 28 Februari 2011

Cinta Dan Kasih Sayang Antara Ibu Dan Anak

Apa yang kita bayangkan pada saat akan menjadi seorang ibu? Mempunyai anak yang baik, yang pinter dan segala macam hal baik lainnya. Tapi, apa persiapan kita untuk menjadi seorang ibu yang baik? Menjadi seorang ibu, bukan sekedar kita menikah dan mempunyai anak, namun diperlukan kesiapan mental, juga fisik. Karena sekali menjadi seorang ibu, maka seorang ibu akan selamanya menjadi seorang ibu.

Seperti yang disampaikan Mario Teguh dalam acara, dengan judul “A mother’s prayer” di Metro TV tanggal 21 Desember 2008, Mario Teguh menyatakan “Ibu tak pernah cuti, tak ada lembur. Keberhasilan ibu adalah keberhasilan anak-anaknya, serta kesedihan anak-anaknya adalah kesedihan ibunya.” Selanjutnya Mario Teguh juga mengatakan, bahwa “ibu menjadi tempat bersandar banyak orang. Ibu menginginkan anaknya berdiri tegak, berjalan dan mempunyai kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, sebaiknya kita sesedikit mungkin bercerita pada beliau, karena begitu masalah yang kita hadapi telah selesai, ibu masih kepikiran”.

Apa yang dikatakan Mario Teguh tadi benar adanya, apalagi setelah saya merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang ibu sejak 26 tahun yang lalu. Peran seorang ibu sangat penting dalam meletakkan dasar-dasar pondasi pendidikan anak-anaknya, pada sikap dan perilaku, serta menjaga agar rumah tangga aman tenteram sedahsyat apapun badai cobaan menggulungnya. Ada pancaran kasih, doa serta pengorbanan seorang ibu, apapun yang menjadi profesi ibu tadi. Kondisi yang semakin berubah, semakin banyaknya wanita karir, diikuti semakin dahsyatnya pengaruh globalisasi yang juga sangat berpengaruh pada perilaku anak-anak kita, semakin menunjukkan betapa peran ibu harus semakin kuat. Sebagaimana sms yang saya terima pagi ini, dari sahabat saya, yang juga seorang ibu, agar kita dapat menjadi ibu yang mampu menciptakan suasana kesejukan, sehingga ada surga di bawah telapak kaki ibu.

Pada saat si anak masih dalam kandungan, ibu harus telah mempersiapkan diri, mendisiplinkan diri, agar anak telah menjadi disiplin sejak masih di dalam kandungan. Seorang anak tidak ingin dilahirkan, namun orangtua lah yang menginginkan kelahiran anak-anaknya, sebagai penyambung keturunan nya. Ibu yang telah mempersiapkan diri, akan lebih tenang dalam menghadapi kesulitan, baik dalam masa kehamilan, proses kelahiran, maupun merawat bayinya dengan penuh kasih sayang setelah anak lahir dengan selamat.

Perkembangan kepribadian dan perilaku anak, sangat ditentukan oleh bagaimana orangtua mendidiknya, disini peran ibu sangat penting. Ibu lah yang mengandung selama 9 bulan, kemudian menyusui, serta menimang anaknya….. selain itu juga mengajarkan anak-anaknya sejak anak bisa mengerti. Mengajarkan etika, agama, dan pelajaran lain yang akan mengembangkan pola pikir dan perilaku anak ke arah yang baik.

Semakin anak besar, tentu saja ibu tak selalu bisa mendampingi anak-anaknya, tapi ibu yakin jalinan yang ada antara ibu dan anaknya. Ibu akan terus berdoa, dan menyerahkan anak pada Allah swt, dan semoga dijauhkan dari segala marabahaya. Dan ibu percaya, doa-doa ibu yang dipanjatkan akan menyertai perjalanan anaknya kemanapun dia berada, dan selalu menjadi penerang atas kehidupannya.

Ibu akan tahu dan merasa, apakah anaknya sedang resah, dan sedang mempunyai masalah yang belum dapat diselesaikan. Ibu akan menunggu, apakah anak akan datang untuk memohon doa ibu, atau anak akan berusaha menyelesaikan sendiri. Ibu tetap akan mendoakannya.

“Ibu, tolong doakan, aku mau test,” sms si bungsu.

“Ibu, makasih doanya, tadi semua berjalan lancar,” kembali sms si bungsu. Ibu tersenyum, dan sangat senang anaknya bisa menyelesaikan pekerjaan dan tugasnya dengan baik.

Semakin anak menjadi dewasa, ibu juga akan mendudukkan dirinya, untuk membuat anak mandiri, dan tidak mencampuri persoalannya tanpa diminta. Kadang anak bisa berbuat salah, tapi seorang ibu, harus bisa mengarahkan anaknya, untuk menerima akibat atas segala kesalahan yang dilakukan, dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama.

Betapa beratnya peran ibu, oleh karena itu menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kedewasaan, kematangan, agar ibu dapat menjalankan perannya, dan membuat keluarga bahagia atas peran ibu yang bisa menaungi seluruh anggota keluarga, dengan kelembutan, ketegasan dan kebijaksanaan nya.

source : http://edratna.wordpress.com/2008/12/22/doa-dan-kasih-sayang-seorang-ibu-penting-dalam-mengantar-kedewasaan-anak-anaknya/

Kamis, 23 Desember 2010

Analisa Film


KDP :Kekerasan dalam Pacaran


sangat sering kita temukan di masyarakat tentang hubungan remaja yang mengalamai kekerasan khususnya adalah pihak wanita.
mungkin dari kita pihak lelaki harus bisa memberikan pengertian lebih ke pihak wanita, tidak semua masalah selesai dengan jalur kekerasan. bnyak cara yng bisa kita hindari selain kekerasankN, toh pada intinya kita saling menyayangi satu sama lain. mungkin dari pihak lelaki harus bisa menumbuhkan rasa seperti itu.
dan untuk pihak wanita harus bisa bersikap lebih tegas karna dengan ketidak tegasan pihak wanita, lelaki model sperti itu akan menjadi-jadi.

Ilmu pengetahuan dan teknolgi serta kemiskinan




Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.

Kemiskinan :
dampaknya sangat terasa bagi kaum bawah tentang kemajuan teknologi yang mereka tak pernah rasakan sebelumnya. Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:

* Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
* Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
* Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.


source : http://aditrespect.blogspot.com

Kamis, 25 November 2010

Agama dan Mayarakat




(Jakarta, MADINA): Menurut salah seorang kepala Madrasah Aliyah Jakarta Barat, bahwa Ahmad Musadek yang mengaku-ngaku sebagai nabi baru selain Nabi Muhammad SAW adalah orang yang terjangkit penyakit megalomania. Megalomania adalah penyakit hati, sombong, merasa besar sendiri.


Biasanya bila dia menyendiri selama 2 jam saja, maka akan hadir bisikan-bisikan. Bisikan ini bisa datang dari malaikat Allah atau jin iblis. Rupanya Ahmad Musadek yang ringan saja mentahbiskan dirinya jadi nabi yang menerima wahyu dari Jibril itu telah terkena penyakit megalomania.

Fir’aun justru lebih dahsyat dari Nabi Palsu Ahmad Musadek. Fir’aun malah mengaku jadi Tuhan. Seperti katanya tercatat dalam al Qur-an, “Ana robbukumul a’laa’, “Aku Tuhan kalian yang maha tinggi.” Jadi sebenarnya masih belum apa-apa bila ada orang mengaku-ngaku jadi Nabi. Masih kalah dengan pengakuan Fir’aun yang jadi Allah (Tuhan).

Orang-orang yang mengaku Nabi Allah setelah Nabi Muhammad SAW sebenarnya bukan baru, tapi sudah menjadi lagu klasik (lama). Kalau Ahmad Musadek mendaulat dirinya sebagai Almasih Al Maud dan Nabi Baru, perbuatannya sama dengan yang dilakukan Musailamah al Kadz-dzab abad 14 lalu. Ketika Rasulullah Saw wafat, dan Abu Bakar naik diangkat umat Islam menjadi khalifatullah dan khalifatul mukminin (pengganti Nabi Muhammad SAW dan perwakilan ajaran Allah SWT), timbul nabi-nabi palsu baru seperti Tulaiha, dan Musailamah si Pendusta itu.

Abu Bakar Assidik, seorang sahabat Nabi Saw nomor wahid menyatakan, siapa saja yang tak salat atau menolak membayar zakat, maka dia akan aku perangi sampai dia bertobat. Benar saja, khalifah Abu Bakar Assidik memerangi nabi-nabi palsu itu sampai semuanya tobat atau terbunuh di medan perang. Begitu pun sekiranya ada orang yang murtad dari Islam setelah dia masuk Islam, bila menolak tobat, maka hukumanya adalah kematian.

Karena ini bukan negara yang menganut Syariat Islam, melainkan negara Pancasila dan ber-UUD 1945, maka tak bisa Ahmad Musadek si nabi palsu itu divonis mati dengan didor, dibom, diracun, ditebas lehernya dan lain sebagainya. Dia paling diadili karena menodai agama Islam, dan setingginya hanya menginap di pordeo selama 5 (lima) tahun. Setelah itu dia bisa bebas menghirup udara bebas dan secara diam-diam menyebarkan faham sesatnya itu.

Sebenarnya orang-orang seumpama Lia Aminuddin, Ahmad Musadek, Mirza Ghulam Ahmad, juga Fir’aun dan Musailamah Al Kadzdzab adalah kelompok pengidap megalomania. Megalomania salah satu virus kesombongan ingin besar, gila pangkat kenabian, mania pujaan dan lain seterusnya.

Sesungguhnya bukan hanya mereka yang disebutkan di atas, siapa pun orangnya yang mengaku-ngaku nabi selain Muhammad Rasulullah, maka sudah pasti mereka kita akan cap dan stempeli dengan mark dan label ‘Nabi Palsu’alias nabi al kadzdzab (raja dusta). (rah)

source : http://madina.com

Warga Negara dan Negara


Kasus TKI, Potret Buram Diplomasi RI
Komite Independen Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (KOPR-TKI) melakukan aksi teatrikal penyiksaan TKI oleh warga Arab Saudi, di Kedutaan Besar Arab Saudi, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Senin (22/11/2010). KOPR-TKI berunjuk rasa di Kedubes Arab Saudi, memprotes perlakuan warga dan pemerintah Arab Saudi terhadap TKI, yang mereka anggap sudah menginjak-injak hak asasi manusia, khususnya warga negara Indonesia yang bekerja di sana.

JAKARTA, KOMPAS.com — Stefanus Gusma, Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia atau PMKRI di Jakarta, Kamis (25/11/2010), mengatakan, persoalan yang menimpa tenaga kerja Indonesia atau TKI belakangan ini merupakan wajah buram diplomasi dan posisi tawar luar negeri Indonesia.

Tahun 2009 saja ada ribuan TKI yang dianiaya tanpa ada pertanggungjawaban jelas. Sekarang pun pemerintah terlalu menyederhanakan masalah kasus TKI dengan pemberian telepon genggam.

Di mata dunia internasional, langkah semacam ini jelas menggambarkan kehancuran kewibawaan Indonesia sebagai sebuah bangsa. "Andai pemerintah kita mampu membangun posisi tawar politik luar negeri, Arab Saudi ataupun negara lain yang menjadi tujuan TKI akan bersikap serius memerhatikan keselamatan dan kesejahteraan TKI kita," ujarnya.

"Jika sikap pemerintah sama dengan yang dipraktikkan pada saat berhadapan dengan Malaysia, jangan harap TKI dihargai sebagai manusia oleh negara lain. TKI tetap hanya akan diperlakukan sebagai budak belian," ujarnya.

Source : Kompas

Rabu, 27 Oktober 2010

Masyarakat Kota dan Masyarakat Desa


Permasalahan Sosial Budaya Masyarakat Kota dan Desa

Hubungan Antara Tingkat Kemajuan Teknologi dengan Kesejahteraan Masyarakat di Kota dan Desa


I. Latar Belakang

Kemajuan teknologi berpengaruh pada banyak unsur kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah unsur kesejahteraan. Kemajuan teknologi dianggap dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, seperti penggunaan internet untuk memesan barang sehingga lebih efisien dan lebih cepat. Namun di Indonesia, terjadi suatu perbedaan yang mencolok sekali antara keadaan kesejahteraan di kota dan di desa. Tidaklah merata pembangunan yang dilakukan pemerintah untuk daerah-daerah tersebut. Tentu ini berpengaruh terhadap kesejahteraan penduduk di daerah tersebut.
Sebelum kita membahas lebih jauh lagi, mari kita tinjau lebih dalam perbedaan antara kota dan desa.

A. Kota

"daerah pemukiman yang terdiri atas bangunan rumah yang merupakan kesatuan tempat tinggal dari berbagai lapisan masyarakat;daerah ang merupakan pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya"(Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi II, Balai Pustaka, 1994, Jakarta)

"Sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya materialistis, atau sebagai benteng budaya yang ditimbulkan oleh unsur alami dan non-alami dan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukulp besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibanding dengan daerah di belakangnya" (Prof Bintarto, Geografi SMU, 1995, Jakarta)

Suatu pemukiman dapat dikatakan kota apabila telah tersedia berbagai fasilitas seperti: rumah tempat tinggal yang terbuat dari tembok yang kokoh dilengkapi sarana listrik yang cukup, air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana olahraga, pasar, tempat hiburan, tempat ibadah, sarana pendidikan, serta sarana dan prasarana transportasi dan telekomunikasi.
Berdasarkan fungsi dan ciri-cirinya, kota dibedakan menjadi beberapa jenis:
- Kota Administratif: Kota yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan wilayah tertentu. (Contoh: Jakarta, Yogyakarta)
- Kota Industri: Kota yang merupakan tempat konsentrasi industri penduduk yang sebagian besar terlibat di kegiatan itu.
- Kota Kosmopolitan: Kota yang mempunyai sifat internasional dgn banyaknya lembaga-lembaga perwakilan negara lain dan banyaknya penduduk yang merasa dirinya mewakili kebudayaan dan pemikiran internasional
- Kota Metropolitan: Kota besar yang menguasai daerah sekelilingnya
- Kota Pelabuhan: Kota yang merupakan perluasan dari pelabuhan
- Kota Religi: Kota yang berfungsi sebagai pusat keagamaan (Contoh: Vatikan)
- Dan lain lain
Pada umumnya kota dibagi 2 bagian yaitu:
- Inti Kota: Merupakan pusat kegiatan ekonomi, politik, dan kebudayaan.
- Kota Satelit: Pemekaran dari pusat kota.

B. Desa

"kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri" (Kamus Besar Bahas Indonesia Edisi II, Balai Pustaka, 1994, Jakarta)

"Suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia" (UU no 5/1979)

Berdasarkan potensi fisik dan nonfisik, desa dibagi menjadi 3:
- Desa Swadaya: Desa yang belum dapat memanfaatkan potensi yang ada (terutama sumber daya alam) karena kekurangan tenaga kerja dan dana. Desa ini terletak di daerah yang masih terpencil. Penduduknya rata-rata tidak berpendidikan atau berpendidikan sampai SD, dan kebanyakan masih terikat dengan tradisi, selain itu mereka juga masih miskin. Mata pencaharian penduduk kebanyakan masih bercocok tanam. Fasilitas sarana dan prasarana sangat kurang, dan transportasi dari dan ke desa masih belum memadai.
- Desa Swakarsa: Desa yang baru mulai memanfaatkan potensi yang ada tetapi kekurangan dana. Desa ini terletak di daerah-daerah peralihan antara daerah kota dan daerah terpencil. Masyarakat desa ini sudah banyak mengenyam pendidikan meskipun jarang yang sampai tingkat universitas (kebanyakan lulusan SD-SMA), ikatan tradisi sudah mulai menghilang dan keadaan ekonomi sudah mulai meningkat. Mata pencaharian penduduk sudah mulai bervariasi, tidak hanya di bidang pertanian. Fasilitas sarana dan prasarana sudah mulai ada, dan dibuat secara bergotong royong, mengingat dana masih terbatas. Transportasi dari dan ke desa sudah mulai ada, seperti pembuatan jalan.
- Desa Swasembada: Desa yang sudah memanfaatkan semua potensi yang ada secara optimal. Selain memiliki potensi yang memadai, dana dan tenaga sudah tersedia. Desa ini biasanya terletak di daerah perkotaan. Kehidupannya sudah mulai modern karena mendapat pengaruh dari kota. Masyarakat di desa ini hampir semua sudah mengenyam pendidikan, bahkan cukup banyak yang sampai ke tingkat universitas. Ikatan tradisi sudah menghilang dan keadaan ekonomi cukup tinggi. Mata pencaharian penduduk sudah sangat bervariasi, mulai dari bidang pertanian sampai dengan jasa. Fasilitas sarana dan prasarana yang dibangun sudah cukup baik. Transportasi dari dan ke desa sudah lancar.

II. Isi
Kota memiliki fasilitas yang berbeda dengan desa. Permasalahan kesejahteraan mencakup beberapa bidang, yaitu bidang kesehatan, bidang ekonomi (pendapatan per kapita, perdagangan),

1. Bidang kesehatan


A. Ditinjau dari fasilitas kesehatan
Di desa, fasilitas kesehatan yang ada bervariasi sampai dengan klinik atau puskesmas. Rumah sakit ada namun tidak umum (hanya ada beberapa rumah sakit umum daerah, itupun tidak di semua desa). Alat-alatnya juga sederhana, tidak banyak alat-alat khusus untuk operasi. Alat-alat yang ada hanya untuk menunjang penyembuhan penyakit yang ringan (seperti luka-luka, imunisasi, batuk2, flu, dsb). Obat-obatan yang ada juga terbatas untuk penyembuhan penyakit yang umum (seperti DBD;itupun kurang lengkap, TBC, Tipus, Kolera, diare, infeksi akibat tetanus/luka, dsb). Jumlah bangsal untuk tempat rawat inap pun hanya sedikit, jika dibanding dengan kota.







Rumah Sakit Umum Daerah
Puskesmas Daerah

Di kota, fasilitas kesehatan bervariasi sampai dengan Rumah Sakit. Puskesmas dan Klinik sudah ada di berbagai tempat di kota. Jumlahnya pun sangat memadai (sampai dengan/lebih dari 100). Alat-alatnya sudah canggih, dan dapat dipakai untuk menyembuhkan penyakit yang berat (seperti kemoterapi, perawatan pasien DBD). Alat-alat untuk operasi juga sudah memadai, bisa untuk melakukan suatu operasi besar (seperti pengangkatan kanker, atau pemisahan bayi kembar). Jumlah bangsal untuk rawat inap pun sudah banyak.

Rumah Sakit Persahabatan

B. Ditinjau dari tenaga kerja
Tenaga kerja di puskesmas desa hanya terbatas sampai dengan dokter umum dan dokter bidan, jarang ditemukan dokter spesialis (selain bidan). Jumlahnya pun tidak banyak. Kebanyakan tenaga kerja yang ada belum banyak pengalaman kerjanya (kalaupun ada hanya beberapa).

Sedangkan di kota, tenaga kerja memadai di mana-mana, paling sedikit 1 rumah sakit ada 3 dari bbrp jenis dokter spesialis, yaitu spesialis mata, spesialis gigi, spesialis penyakit dalam, spesialis kulit, spesialis anak, spesialis THT, Psikiater, Bidan, dll. Selain itu, di kota ada banyak universitas dengan fakultas kedokteran, sehingga rumah sakit-rumah sakit tidak kekurang tenaga kerja sebab mahasiswa kedokteran yang sudah mendapat gelar sarjana kedokteran yang sedang menjalani tahap klinik bisa berperan sebagai dokter (sebagai dokter muda)

Dilihat dari keadaan di atas, dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan masyarakat kota di bidang kesehatan cenderung lebih tinggi daripada masyarakat desa, sebab warga kota lebih tinggi persentase kesembuhannya dibandingkan warga desa. Sedangkan apabila ada warga desa yang sakit, namun tidak bisa disembuhkan di klinik desa, maka harus dirujuk ke rumah sakit kota, yang tentu saja biayanya lebih mahal bila dibandingkan dengan pendapatan masyarakat desa, dan juga jaraknya lebih jauh. Sedangkan bila ingin dibebaskan biaya rumah sakit, maka warga desa harus mempunyai kartu sehat, yang pengurusannya pada kenyataannya rumit dan malah membuang-buang waktu. Bahkan ada juga yang memungut biaya.


2. Bidang Pendidikan

Pendidikan tentu berpengaruh banyak pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang umumnya berpendidikan tinggi akan lebih sejahtera, sebab mereka lebih tahu bagaimana mencari jalan keluar dari masalah-masalah seputar kehidupan dengan lebih baik daripada orang-orang yang tidak berpendidikan setinggi mereka.
Di desa, pada umumnya tingkat pendidikannya hanya sampai SMA. Adapun mereka yang berasal dari desa yang telah melanjutkan pendidikannya sampai ke universitas (sarjana) , kebanyakan tidak kembali ke desanya, dan tidak mengusahakan suatu perngembangan bagi desanya.
Di kota terdapat banyak pusat pendidikan, universitas, pusat-pusat penelitian yang dapat meningkatkan pengembangan kota tersebut. Masyarakat kota pun umumnya berpendidikan tinggi (minimal SMA) dan memiliki potensi SDM yang lebih baik. Mereka dapat mengusahakan suatu bidang usaha menjadi lebih optimal hasilnya.

3. Bidang Ekonomi

Masyarakat desa memiliki pendapatan yang tidak besar. Sebab kebanyakan dari mereka memiliki mata pencaharian di bidang agraria. Kekayaan di desa juga tidak hanya diukur dari berapa uang yang mereka miliki namun dari berapa jumlah ternak yang mereka punya. Ini adalah suatu dampak dari kurangnya teknologi di desa. Masyarakat desa kebanyakan menyimpan uangnya di rumah, atau di celengan. Padahal rumah juga tidak permanen, begitu pula celengan. Apabila suatu hari terjadi kebakaran, atau bisa saja perampokan, yang berakibat pada hilangnya uang mereka. Ternak bisa terkena penyakit (seperti anthrax) dan mati. Kekayaan mereka tidak permanen. Mereka belum mengenal lebih dalam tentang fungsi dari bank. Atau bahkan ada yang belum mengenal bank sama sekali. Meski ada yang sudah menabung di koperasi, namun belum semua melakukannya. Tingkat ekonomi tentu berpengaruh pada tingkat kesejahteraan. Dengan pendapatan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka sulit untuk mengembangkan diri ke tingkat yang lebih tinggi, seperti menyekolahkan anaknya sampai ke universitas, atau membeli modal untuk mengembangkan usaha mereka. Mereka juga kurang mampu membeli fasilitas penunjang seperti transportasi yang lebih efisien (mobil, motor, di desa masih dianggap sebagai barang mewah).
Di kota, tingkat ekonomi bervariasi. Ada yang miskin sekali dan ada yang sangat kaya raya. Kebanyakan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan adalah akibat urbanisasi. Walaupun begitu, masyarakat kota memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi di bidang ekonomi. Sebab dengan pengetahuan dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, mereka dapat lebih mengembangkan dirinya. Bahkan sekarang dengan teknologi internet, mereka bisa membuka usaha sendiri, bahkan meraup keuntungan sampai berjuta-juta rupiah setiap bulannya.

4. Pusat-pusat Hiburan

Hiburan dan rekreasi juga merupakan suatu faktor kesejahteraan masyarakat. Tentu keberadaan pusat hiburan itu juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi.
Di desa, pusat rekreasi jarang ada. Hiburan bagi anak-anak biasanya permainan sederhana seperti congklak, tali karet, gundu, atau bola. Hiburan pada orang dewasa umumnya radio, atau bila memiliki cukup uang, televisi. Pada saat-saat tertentu diadakan pesta-pesta untuk memperingati suatu even (seperti pesta sukuran atas hasil panen yang baik). Hiburan dan rekreasi bagi masyarakat desa belum bervariasi dan masih tradisional.
Di kota, pusat rekreasi sudah sangat bervariasi. Sebut saja pusat hiburan, mulai dari mall, diskotik, kafe, bioskop, sampai tempat-tempat hiburan berbau seks pun ada di sini. Ini merupakan efek dari kemajuan teknologi yang sangat tinggi di kota. Anak-anak di kota umumnya sudah kurang mengenal permainan congklak atau tali karet, dan digantikan dengan permainan game online di internet, atau bermain playstation. Sedangkan orang dewasanya mencari hiburan di mall, atau di diskotik. Atau pergi menonton di bioskop, dan banyak lagi.
Dengan variasi hiburan dan rekreasi yang sangat berbeda antara kota dan desa, tentu mempengaruhi kesejahteraan. Orang-orang kota memiliki lebih banyak pilihan dalam memilih hiburan, dan tentu ini mempengaruhi kesenangan mereka. Sedangkan di desa, meski orang-orangnya juga memiliki hiburan sendiri, namun karena kurangnya variasi maka rasa bosan akan timbul suatu saat.

Dari beberapa perbandingan antara kota dan desa di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat di kota lebih sejahtera daripada di desa. Akibat dari kesejahteraan masyarakat di desa, berpengaruh pula pada kesejahteraan di kota. Seperti pada contohnya urbanisasi. Urbanisasi disebabkan oleh beberapa faktor:
- dorongan ekonomi
masyarakat desa ingin menjadi berkecukupan secara ekonomi, dan mereka mendengar bahwa dengan bekerja di kota mereka dapat menjadi kaya. Padahal ini tidak sepenuhnya benar, mengingat persaingan di kota sangat tinggi, dan masyarakat desa pada umumnya tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk bersaing di kota, terutama kota-kota besar.
- dorongan rekreasi
masyarakat desa yang mendengar tentang mewahnya fasilitas hiburan di kota, menjadi tertarik untuk pindah ke sana. Namun mereka kurang mendapat informasi bahwa biaya yang diperlukan juga tidak murah. Akibatnya setelah mereka pindah ke kota, karena tidak mengetahui biaya yang dibutuhkan, sehingga uang simpanannya habis dan menjadi miskin.

Akibat kedua hal di atas, penduduk kota semakin bertambah dan ini berpengaruh pada tingkat kesejahteraan masyarakat kota. Persaingan di kota semakin bertambah ketat. Akibatnya berpengaruh pada tingkat pengangguran. Karena banyak orang yang menganggur, tingkat kriminalitas meningkat. Akibat kriminalitas yang meningkat, masyarakat kota menjadi resah dan merasa tidak aman.


source : http://www.google.co.id/search?q=perbandingan+masyarakat+kota+dengan+desa&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a